Lebih dari sekedar sebidang tanah untuk tinggal

Menjelang mandi sore, sambil antri kamar mandi, tiba-tiba aku terbayang tentang rumah dimana aku dilahirkan yaitu rumah kayu di sisi sungai di desa Tulung selapan, kabupaten OKI sekarang kabupaten pantai timur. memang bukan di atas tanah, meski di atas sungai tapi disana hubungan atau interaksi sosial terbangun, tidak semua tetangga itu keluarga dekat tetapi kami semua dekat. hal yang terasa ketika musim kemarau datang, sungai kami mengering hingga bisa untuk naik sepeda. Nah, yang punya sumur berair, mereka ikhlas air sumur mereka dibagi-bagi. Hubungan yang terjalin terus menerus ini berlangsung baik saat susah maupun senang. berada di kampung halaman membuat kita merasa tentram dan nyaman, semua orang mengenal kita dengan baik, bahkan tahu di saat ibu kita mengandung diri kita. Namun setelah berpuluh tahun pindah dari tempat itu, ketika kembali, semua terasa asing. sebab orang-orang yang dulu ada sudah berganti dengan orang lain. bukan cuma orang, tapi samping kiri kanan, sudah bangun sarang walet semua. Jujur, aku rindu kampungku dan orang-orangnya yang dulu.

dari mikir kampung halaman, sambil waktu giliran mandi, pikiranku merambah kepada pristiwa-peristiwa penggusuran di suatu pemukiman. Jadi aja, sambil mandi sambil mikir….

Di atas tanah terbentuk suatu hubungan sosial yang saling terikat satu sama lain. Bersama itu tumbuh perasaan nyaman dan aman di dalamnya. karena itu, bila terjadi suatu penggusuran atau pembebasan lahan dimana di atasnya terdapat suatu kelompok masyarakat atau warga yang mana terdapat jalinan hubungan sosial (interaksi terus-menerus secara menguntungkan) di antara mereka, maka hendaknya relokasi haruslah memikirkan agar hubungan sosial tersebut tetap dapat berjalan. tentunya dengan syarat bahwa kepindahan mereka di tempat baru tersebut membawa perubahan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.
Contohnya, bila dikehidupan mereka sebelumnya lingkungan mereka jorok atau jauh dari standard hidup sehat, maka ditempat baru mereka harus bersih. Bila belum ada TPU, pemerintah atau pihak yang berkepentingan itu harus menyediakannya. Bila jarak tempuh dari tempat bekerja ke rumah menjadi lebih jauh, maka mestinya pihak yang berkepentingan wajib membuat surat usulan atau rekomendasi agar tempat bekerja di pindah atau tempatkan ke tempat terdekat.

Siapa yang harus melakukan semua ini? pihak yang berkepentingan. kalau mereka tidak mau gimana? harus dipaksa! siapa yang maksa? ya pemerintah dan masyarakat atau warganya itu sendiri. Gimana cara? dari pemerintah, ijinnya jangan diberikan. dari warga atau masyarakat jangan mau pilih pemerintah yang nggak perduli dengan kebutuhan warganya.
Masalahnya, apakah masyarakat tahu apa hak mereka? gimana caranya agar masyarakat jadi tahu dan pintar? aku jadi ingat alm.Gusdur dulu yang paling suka keluarkan wacana kontroversial di dalam masyarakat, sehingga heboh dan jadi bahan diskusi sehari-hari mulai di perguruan tinggi hingga di warung-warung kopi. Ah..Gusdur itu memang unik, mestinya sekarang ini ada sosok seperti Gusdur yang bisa memicu masyarakat untuk menjadi lebih pintar tanpa mereka sadari..

sebenarnya, yang ingin aku sampaikan disini bahwa sebidang tanah tempat tinggal bukan hanya sekedar untuk tinggal…
ocehanku ini, adalah keresahan hati dan pikiranku saja yang harus diungkapkan daripada menjadi jerawat batu. Kuyakin diluar sana ada banyak pihak yang sudah lama perjuangkan ini. kalau ada kegiatan nyata untuk ini, boleh aku ikut gabung meskipun hanya sekedar menularkan semangatnya saja atau bagian “heurei-heurei” we lah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*