Persepsi yang salah

Persepsi Kita
Senin, 1 April 2013

Sewaktu kami dalam perjalanan pulang dari Jogja menuju Malang, driver kami berhenti untuk ngopi menepi di sisi kanan jalan di depan SPBU di daerah entah dimana (saya baru terjaga dari tidur dan tidak ada tulisan apapun yang bisa saya saya jangkau untuk mengetahui lokasi saya) yang pasti sudah hampir 2 jam dari perbatasan Sragen-Ngawi. Lalu saya perhatian di seberang mobil kami tepat sebelum warung kopi tempat driver kami ¬†beli ada cahaya biru kelip-kelip dari mobil patroli polisi. Sebelum saya tahu kalau driver mau ngopi, sambil mencoba memperjelas penglihatan, saya tanya ke driver, “ada apa, apakah kita ditilang?” jawab driver, “tidak bu, saya mau ngopi.” lalu saya bilang, “lho itu ada polisi, ga papa tah?”, jawab driver “nggak apa-apa bu, polisinya juga mau ngopi kayaknya.” lalu driver kami berlalu menuju warung kopi tersebut.

Sejenak, saya jadi berpikir. Mengapa saya tadi berpikiran seperti itu? Mengapa pertanyaan yang pertama kali muncul seperti itu? Padahal Polisi itu khan juga manusia, mereka tentu akan melakukan aktivitas keseharian lainnya sama seperti kita. Lalu, ku coba rasakan perasaan ku saat itu, terus terang, saya merasa tidak nyaman. Ada polisi di sekitar mobil kami, saya merasakan perasaan yang tidak nyaman. Kembali lagi saya bertanya pada diri sendiri. Mengapa seperti ini? Padahal semestinya, saya merasa nyaman, sebab polisi itu adalah perangkat hukum sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Mestinya yang saya rasakan adalah rasa aman dan nyaman. Ada polisi berarti kami terjaga dari perbuatan jahat orang lain.

Wah, ini pasti karena persepsi saya yang salah tentang polisi. Persepsi ini terbentuk karena suatu informasi yang saya terima secara terus menerus sejak lama. Saya masih ingat waktu kecil dulu, kalau saya nakal tidak mau nurut, tidak jarang saya ditakuti nanti akan ditangkap polisi. Atau ketika lagi di perjalanan, supaya tidak rewel saya ditakut-takuti tentang polisi bahwa polisi punya pistol, kalo nakal nanti ditembak. 
Terakhir saya berhadapan dengan polisi ketika saya ditilang motor di Jogja sebab tidak membawa SIM (karena baru belajar jadi belum punya SIM, punyanya SIM mobil). Itu rasanya mau terkecing-kencing gugupnya dan besoknya saya langsung bikin SIM motor. Meskipun sudah lengkap semua, ketika membawa motor atau mobil, tiap diperiksa kelengkapan oleh polisi selalu saja membuatku gemetar dan deg-deg an. Lucunya, bapak mertua saya adalah seorang Polisi, untungnya sudah pensiun jadi tidak pernah saya melihat beliau pakai seragam. Begitu juga dengan adik ipar dari suami saya yang juga polisi, untungnya ketemunya setahun sekali ketika lebaran, itupun dia tidak pakai seragam polisi.

Sekarang saya adalah seorang dosen ilmu hukum, tahu kalau polisi tugasnya apa dan tidak asal sembarang nangkap orang, ada syarat dan ketentuannya tapi tetap aja perasaanku seperti itu ketika lihat polisi. Secara logika mudah dibenahi sebab pengetahuan saya sudah lain, tapi secara perasaan serta reaksi sulit untuk diganti begitu saja.
Pelajaran dari pengalaman saya ini:
1. Jangan pernah memberikan informasi yang salah kepada orang lain apalagi kepada anak-anak. Sebab, informasi yang salah yang diberikan secara terus menerus-menerus akan membentuk persepsi seseorang. Bila sejak awal persepsinya salah, maka kesana-sananya akan sulit jadi benar, kalaupun benar jadinya terpaksa.
2. Untuk menilai efektivitas hukum persepsi memainkan peranan yang penting karena itu semestinya (pandangan sementara saya) ilmu sosiologi membuat cabang sendiri sebagai sosiologi hukum bukan fakultas hukum yang buka cabang sosiologi jadi induknya sosiologi sebab sosiologi tidak memberikan preskripsi/resep yang berkaitan dengan ilmu hukum. Tapi hasil kajian sosiologi ini akan digunakan oleh ilmu hukum. Sama halnya dengan kajian dari psikologi hukum dsb. Mereka hanya memberikan deskripsi atau resep sesuai dengan bidang ilmu psikologi.
3. Mestinya ada cabang khusus dari ilmu hukum yaitu ilmu penerapan hukum dan ilmu pembinaan hukum. Jadi bukan hanya menjadi tugas dari BPHN saja.

Eh, iya, saya jadi teringat dan merasa berdosa sebab pernah takuti anak2 tentang Pak RT ketika mereka rewel dan sulit diatur. Maafkan saya ya, insyallah ga gitu lagi..
Ini cerita saya, bagaimana ceritamu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*