PJJ dan Solusi bagi Dosen Hamil, menyusui dan mempunyai Balita

12/04/2013 by Herlindah

PJJ (Perkuliahan Jarak Jauh) atau E-Learning adalah suatu metode pengajaran dengan tujuan mengatasi permasalahan jarak antara Dosen/guru dengan Mahasiswa atau muridnya.  Intinya, PJJ adalah sarana pendukung. Metode ini menuntut keaktifan para pihak yaitu baik dosen maupun mahasiswa. Dosen harus bias merencanakan materi dan kegiatan perku;iahan. Mulai dari materi pokok, sub-pokok, bagaimana bentuk forum diskusi  atau pola interaksi, bentuk ujian dan kapan semua itu dilaksanakan.

businesscardsforyou.com

businesscardsforyou.com

Karena ini, benar-benar baru bagi saya, kalau boleh komentar, e-learning ini jauh lebih ribet daripada kuliah tatap muka langsung. Tapi judulnya, ini masih baru dipelajari dalam arti belum terbiasa. Kalau dilakukan secara terus-menerus, saya yakin saya bisa *overconfident pasca coffeebreak, mungkin efek kelebihan karbohidrat*. Meskipun ribet, tapi coba lihat niat dan maksudnya. Tujuannya supaya kita tidak Gaptek alias gagap teknologi dan ini semua untuk mempermudah kita baik sebagai dosen maupun mahasiswa.

Dalam mempelajari E-learning ini ada banyak aplikasi yang harus dipelajari dan digunakan. Semuanya baru bagi saya. Terus terang saya sering tidak kompak dengan Tutornya, kadang saya tertinggal jauuuh sekali misalnya materinya A-Z, tutor sudah sampai M saya masih B. tapi pernah juga dalam tahap yang lain, misalnya A-Z, tutor baru C saya sudah Q. ya begitu, sistemnya pakai trial dan error. Namun pada akhirnya sampai di Z bareng juga.

www.clipartreview.com

www.clipartreview.com

Sembari mengikuti pelatihan, dalam hati saya mikir, nanti kalau sudah selesai pelatihan, “so what gitu lho?” mau praktekkan dimana.. bukannya tidak percaya dengan metode atau system ini. Sungguh, ini cara sudah sangat canggih, yang saya belum percaya adalah orang-orang yang melaksanakan dan sarana prasarananya. Tidak semua orang sudah siap dan mau belajar cara metode ini gimana. Jangankan mahasiswa, dosennya aja padahal masih muda-muda kadang malas untuk memulai belajar hal baru khususnya di bidang IT ini. Lalu bagaimana dengan sarana dan prasarananya, misalnya komputernya dan aplikasinya, tentu harus disiapkan lengkap dengan maintenance rutinnya, karena barang kalau tidak dirawat apalagi elektronik macam computer, sebentar saja hancur alias rusak. Dalam hal ini, saya tidak anjurkan perkulihan bagi mahasiswa ditempat terpisah masing-masing tapi harus di sebuah Lab yang ada pengawasnya. Kemudian jaringan internetnya harus gaspol, sangat tidak lucu, lagi asyik PJJ, eh jaringannya nge-down. Dimana kelas berakhir dengan bubar.

AFWECWMCA1JS0H6CAE4A1P0CAKPMTPSCATL5FS3CABTM6CPCAUOLKC7CAYTNQOVCAE4ZG9DCADPVC8BCAN2U9H3CA7OR865CADFSCMBCAUX0EVLCAU6FHUWCA41N01NCA44VF05CAR40DYOCAEPIG0OWell, back to the tittle of this essay.. jadi apa hubungannya dengan ibu hami, menyusui dan mempunyai balita? Emangnya ada masalah?

Sabar-sabar, control emosi. Baiknya jaga talisilaturahmi *ini pengaruh infotainment yang sibuk bicarakan eyang subur* Begini ceritanya: Bagi dosen-dosen muda, usia produktif, masa-masa hamil, menunyusui dan membesarkan balita, bukan rahasia lagi masalah domestic sering menjadi permasalahan utama. Apalagi model dosen seperti saya, merantau jauh dari sanak keluarga, tidak ada tempat untuk persingahan seperti ortu yang bisa titip. Namun punya idealis dan semangat yang tinggi untuk memberikan ASI makanan terbaik bagi bayi dan juga percaya bahwa masa balita adalah golden age. Nah, ketika harus ngajar sebagai kewajiban pekerjaan, berarti harus tinggalkan si anak. Gitu juga dengan ibu-ibu yang sudah hamil tua. Kesian kalau harus berangkat dan pulang ke kampus sendiri naik sepeda motor sendiri pula.

Oleh sebab itu, menurut saya PJJ ini mestinya bisa diterapkan sebagai solusi bagi permasalah ibu hamil, ibu menyusui dan mempunyai balita. Toh, tidak lama. Ibu hamil tua sekitar usia kandungan 7 bulan, masa menyusui hingga anaknya usia 4 tahun. Setelah itu ngajarnya bisa seperti biasa tatap muka lagi. Bila UB, bisa terapkan ini, saya yakin UB semakin bermartabat, Allah justru akan semakin melimpahkan rahmatnya. Akan diketuk-Nya hati-hati dosen, mahasiswa dan karyawan untuk bisa bekerja dengan sepenuh hati dan berprestasi. Anak-anak Indonesia di masa depan, adalah anak-anak yang sehat dan cerdas. Bukan Cuma UB yang akan menjadi terdepan, bahkan Indonesia.

gagthat.com

Tersesat di hutan Informasi

11/04/2013 by Herlindah
http://www.nevillejohnson.co.uk/

http://www.nevillejohnson.co.uk/

Seringkali ketika kita harus mencari suatu informasi di internet atau bahasa inggrisnya Browsing, kita malah tersesat. informasi yang mungkin hanya bisa didapat dalam waktu 30 menit, baru bisa didapat setelah seharian browsing. Apa sebab? karena kita tidak fokus. informasi yang tersedia begitu banyak dan begitu menariknya. Bahkan bisa dibilang memaksa, kasarnya dibajak. Pernah mengalami hal seperti: membuka web tertentu lalu tiba-tiba muncul box dengan suatu informasi menghalangi pandangan kita. baru kemudian hilang kalau kita klik tanda silang dipojok kanan atas. Kalau kita menyadari, tentu kita secara reflek akan mengklik tanda silang. tapi bagaimana jika kita justru tertarik dan terus ikut, maka tersesatlah kita. Habis waktu kita dengan hal-hal yang tak penting atau kurang penting untuk dibaca dan dilihat. Karena itu, memang sebaiknya kita fokus pada apa yang menjadi tujuan sejak awal. Kalau berdasarkan pengalaman saya, mencari informasi di perpustakaan itu lebih efektif, khususnya terhadap suatu bidanilmu tertentu. Namun permasalahan kita sat ini, perpustakaan yang ada tidak memadai. Begitu juga dengan literatur yang tersedia. Karena itu, mengembangkan perpustakaan itu suatu keniscayaan baik di rumah (perpustakaan pibadi) maupun di kampus. Kalau ada perpustakaan yang engkap dan nyaman, it’s better you go there! then..carilah buku yang berkaitan dengan materi yang dicari. Yeay! Viva Perpus!

lihatlah beberapa picture suasana perpustakaan di bawah ini…

www.deepriverlibrary.ca

www.deepriverlibrary.ca

library.brunsco.net

library.brunsco.net

2kmand2kj.global2.vic.edu.au

2kmand2kj.global2.vic.edu.au

http://www.favl.org/blog/archives/2011/03/the-best-little-container-library-in-africa--osu-childrens-library-fund-in-accra.html

http://www.favl.org/blog/archives/2011/03/the-best-little-container-library-in-africa–osu-childrens-library-fund-in-accra.html

Perbandingan Hukum Perkawinan berdasarkan BW dan UU no.1 Tahun 1974

08/04/2013 by Herlindah

Dear bloggy Readers umumnya, dan Mahasiswaku pada khususnya..

berikut hasil diskusi kelompok belajar di kelas PHP kelas A Genap 2012-2013

semoga dapat bermanfaat. ditunggu saran dan kritiknya untuk menyempurnakan hasil diskusi, kirimkan ke herlindahpetir@yahoo.com

perbandingan perkawinan BW dg UUP

Jurnal Predator!

03/04/2013 by Herlindah

oleh Terry Mart

Kompas cetak, 2 April 2013

Belakangan ini, saya sering ditanya tentang jurnal predator. Rupanya orang mulai meresahkannya.

Istilah jurnal predator pertama kali diajukan Jeffrey Beall, pustakawan yang bekerja di Universitas Colorado, Amerika Serikat. Puluhan penerbit dan ribuan jurnal ia kategorikan sebagai predator. Jurnal predator diterbitkan oleh penerbit predator dengan tujuan utama bisnis, menghasilkan uang bagi si pembuat jurnal. Biaya pemuatan per makalah ratusan hingga ribuan dollar AS. Tidak murah!

Jeffrey Beall saat ini rutin meneliti jurnal predator yang baru muncul dan bersifat open-access, yaitu jurnal yang hanya tersedia secara online, tidak ada versi cetak. Kalaupun ada, hanya versi cetak lepas (reprint) yang tentu saja sangat mudah dicetak dengan printer masa kini.

Skandal ilmiah

Tidak sulit memulai bisnis ini asalkan bisa membangun situs yang menarik dengan embel-embel foto orang-orang berjas putih, memakai masker putih, seolah-olah sedang meneliti atau berdiskusi. Lebih meyakinkan lagi jika situs tadi ditempeli gambar rantai DNA agar terlihat lebih ilmiah. Ironisnya, bahkan untuk jurnal sosial pun, rantai DNA tetap dipajang.

Dengan menggunakan peranti lunak Open Journal System yang mudah dipasang dan gratis karena bersifat open source, remaja yang terlatih menggunakan teknologi informasi bisa mengendalikan aliran makalah yang masuk, proses penjurian (review), hingga penerbitan makalah secara profesional. Seperti kata Beall, prinsip pendirian jurnal predator adalah membuat situs, mengirim e-mail spam ke para ilmuwan, dan setelah itu tinggal berleha-leha menunggu konsumen datang.

Mungkin masalah terberat jurnal predator adalah mencari penulis makalah, juri (reviewer), dan dewan editor. Meski demikian, pendiri jurnal predator tidak kehabisan akal. Mereka mengirimkan e-mail spam ke ilmuwan-ilmuwan untuk mengisi.

Di negara berkembang, hal ini seperti gayung bersambut karena ilmuwan negara berkembang sangat membutuhkan aktualisasi diri melalui jurnal-jurnal dengan “cap internasional”. Semua itu untuk meraih hibah penelitian atau jabatan yang lebih tinggi meski harus membayar mahal. Jadilah “simbiosis yang saling menguntungkan”.

Sebenarnya tidak ada masalah jika makalah yang masuk benar-benar diperiksa juri yang mumpuni, sebidang, dan menggunakan standar ilmiah internasional. Kenyataannya, hampir semua jurnal ini menjamin makalah pasti diterima asal membayar. Di sini skandal ilmiah itu dimulai.

Contoh paling jelas adalah makalah hasil copy-paste di bidang pertanian yang mengatasnamakan penyanyi Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai penulis makalah di sebuah jurnal predator di Afrika tahun lalu. Tentu saja, kejadian ini sangat memalukan bagi jurnal tersebut karena jelas sekali makalah tidak diperiksa oleh juri ahli sebelum diterbitkan. Saat ini, makalah itu sudah dicabut oleh pemilik jurnal, tetapi Jeffrey Beall masih menyimpan salinan makalah tersebut di lamannya.

Alamat palsu

Hasil penelitian Beall memperlihatkan, hampir semua jurnal predator dikendalikan dari India, Pakistan, serta negara-negara di Afrika meski di situsnya ada alamat surat di Amerika, Kanada, atau Eropa untuk mengelabui konsumen.

Pada umumnya, jurnal predator bisa ditengarai dari sulitnya menemukan alamat darat jurnal. Editor jurnal hanya dapat dihubungi melalui e-mail atau situs internet. Beberapa alamat yang dipajang, bila diperiksa dengan fasilitas Google Earth, hasilnya akan menunjuk ke alamat apartemen murah, apotek, atau tempat-tempat yang mustahil berbau ilmiah. Pemilik jurnal biasanya menyewa alamat kotak surat di Amerika atau Kanada.

Banyak juga jurnal predator yang judulnya dimulai dengan “American Journal of” atau “Canadian Journal of” semata-mata untuk menunjukkan bahwa jurnal ini merupakan produk Amerika atau Kanada.

Begitu pesatnya perkembangan jurnal predator membuat penerbit ataupun jurnal mulai kehabisan nama. Muncul nama-nama penerbit atau jurnal yang mirip atau malah sama. Bahkan, nama-nama tidak lazim mulai bermunculan, misalnya ada jurnal yang namanya “sampah”.

Jadi rumit

Masalah jurnal predator ini menjadi rumit karena kontribusi para ilmuwan (terutama dari negara berkembang) yang secara langsung turut membesarkan jurnal. Di lamannya, Beall mengajak para ilmuwan dan akademisi untuk menjauhi jurnal ini dengan cara tidak berkontribusi sebagai penulis makalah, juri, atau reviewer, serta editor jurnal.

Akibat kontribusi para ilmuwan, beberapa jurnal memiliki faktor dampak (impact factor/IF) meski IF tertinggi hanya 0,5. Sejumlah jurnal predator juga sudah diindeks oleh Scopus. Sebagai catatan, IF dipercaya banyak ilmuwan untuk menggambarkan kualitas jurnal, sedangkan indeks Scopus dalam skala nasional kita dianggap sebagai stempel jurnal internasional.

Bagi jurnal-jurnal ilmiah nasional yang sudah diakui keilmiahannya melalui akreditasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, keberadaan jurnal predator jelas sangat merugikan. Makalah-makalah ilmiah yang potensial untuk diterbitkan jurnal nasional terserap oleh jurnal predator gara-gara ada embel-embel internasionalnya. Padahal, dalam banyak hal, jurnal nasional kita jauh lebih baik dibandingkan jurnal predator.

Ada satu kasus lagi yang direkam laman Beall. Seorang ilmuwan terpaksa harus menarik kembali makalahnya dari sebuah jurnal predator karena makalah tersebut terpublikasi juga di jurnal yang jauh lebih bergengsi. Namun, jurnal predator mengharuskan si penulis makalah membayar “biaya penarikan”.

Sangat mencengangkan, betapa komersial jurnal tersebut. Untuk memasukkan harus membayar, dan untuk menarik makalah juga harus membayar. Saya tidak dapat membayangkan berapa banyak biaya total yang dihabiskan ilmuwan negara berkembang untuk menarik makalah-makalah yang mereka tulis jika sekali waktu jurnal sejenis ini dimasukkan dalam daftar hitam pihak berwenang.

Permasalahan jurnal predator tidak akan begitu kronis jika para ilmuwan negara berkembang kembali menyadari hakikat makalah ilmiah (Kompas, 21 Februari 2012). Seberkas makalah ilmiah tidak lebih dari laporan hasil penelitian yang ditulis dalam format tertentu untuk dibaca para peneliti lain yang mengerti atau berkepentingan dengan hasil penelitian tersebut.

Jurnal komunitas

Saat ini ada puluhan ribu jurnal ilmiah sehingga peneliti harus mencari jurnal yang visible bagi pembaca targetnya. Jurnal komunitas—mayoritas komunitas penelitian tertentu memublikasikan hasil penelitian mereka—merupakan jurnal yang paling tepat untuk tujuan ini.

Di bidang fisika, misalnya, ada jurnal yang diterbitkan American Physical Society atau European Physical Journal dan merupakan contoh jurnal-jurnal komunitas yang sangat baik.

Kita sangat yakin bahwa ilmuwan yang baik tidak memerlukan jurnal predator karena komunitas ilmiahnya sudah memiliki jurnal-jurnal standar komunitas yang visibilitasnya sangat tinggi di komunitas itu. Meski saya tidak menampik bahwa IF dapat menggambarkan kualitas jurnal secara kualitatif, jurnal komunitas akan lebih efektif menyampaikan informasi.

Jurnal predator bisa dikategorikan sebagai jurnal subhat (meragukan) sehingga sebaiknya kita hindari.

Persepsi yang salah

01/04/2013 by Herlindah

Persepsi Kita
Senin, 1 April 2013

Sewaktu kami dalam perjalanan pulang dari Jogja menuju Malang, driver kami berhenti untuk ngopi menepi di sisi kanan jalan di depan SPBU di daerah entah dimana (saya baru terjaga dari tidur dan tidak ada tulisan apapun yang bisa saya saya jangkau untuk mengetahui lokasi saya) yang pasti sudah hampir 2 jam dari perbatasan Sragen-Ngawi. Lalu saya perhatian di seberang mobil kami tepat sebelum warung kopi tempat driver kami  beli ada cahaya biru kelip-kelip dari mobil patroli polisi. Sebelum saya tahu kalau driver mau ngopi, sambil mencoba memperjelas penglihatan, saya tanya ke driver, “ada apa, apakah kita ditilang?” jawab driver, “tidak bu, saya mau ngopi.” lalu saya bilang, “lho itu ada polisi, ga papa tah?”, jawab driver “nggak apa-apa bu, polisinya juga mau ngopi kayaknya.” lalu driver kami berlalu menuju warung kopi tersebut.

Sejenak, saya jadi berpikir. Mengapa saya tadi berpikiran seperti itu? Mengapa pertanyaan yang pertama kali muncul seperti itu? Padahal Polisi itu khan juga manusia, mereka tentu akan melakukan aktivitas keseharian lainnya sama seperti kita. Lalu, ku coba rasakan perasaan ku saat itu, terus terang, saya merasa tidak nyaman. Ada polisi di sekitar mobil kami, saya merasakan perasaan yang tidak nyaman. Kembali lagi saya bertanya pada diri sendiri. Mengapa seperti ini? Padahal semestinya, saya merasa nyaman, sebab polisi itu adalah perangkat hukum sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Mestinya yang saya rasakan adalah rasa aman dan nyaman. Ada polisi berarti kami terjaga dari perbuatan jahat orang lain.

Wah, ini pasti karena persepsi saya yang salah tentang polisi. Persepsi ini terbentuk karena suatu informasi yang saya terima secara terus menerus sejak lama. Saya masih ingat waktu kecil dulu, kalau saya nakal tidak mau nurut, tidak jarang saya ditakuti nanti akan ditangkap polisi. Atau ketika lagi di perjalanan, supaya tidak rewel saya ditakut-takuti tentang polisi bahwa polisi punya pistol, kalo nakal nanti ditembak. 
Terakhir saya berhadapan dengan polisi ketika saya ditilang motor di Jogja sebab tidak membawa SIM (karena baru belajar jadi belum punya SIM, punyanya SIM mobil). Itu rasanya mau terkecing-kencing gugupnya dan besoknya saya langsung bikin SIM motor. Meskipun sudah lengkap semua, ketika membawa motor atau mobil, tiap diperiksa kelengkapan oleh polisi selalu saja membuatku gemetar dan deg-deg an. Lucunya, bapak mertua saya adalah seorang Polisi, untungnya sudah pensiun jadi tidak pernah saya melihat beliau pakai seragam. Begitu juga dengan adik ipar dari suami saya yang juga polisi, untungnya ketemunya setahun sekali ketika lebaran, itupun dia tidak pakai seragam polisi.

Sekarang saya adalah seorang dosen ilmu hukum, tahu kalau polisi tugasnya apa dan tidak asal sembarang nangkap orang, ada syarat dan ketentuannya tapi tetap aja perasaanku seperti itu ketika lihat polisi. Secara logika mudah dibenahi sebab pengetahuan saya sudah lain, tapi secara perasaan serta reaksi sulit untuk diganti begitu saja.
Pelajaran dari pengalaman saya ini:
1. Jangan pernah memberikan informasi yang salah kepada orang lain apalagi kepada anak-anak. Sebab, informasi yang salah yang diberikan secara terus menerus-menerus akan membentuk persepsi seseorang. Bila sejak awal persepsinya salah, maka kesana-sananya akan sulit jadi benar, kalaupun benar jadinya terpaksa.
2. Untuk menilai efektivitas hukum persepsi memainkan peranan yang penting karena itu semestinya (pandangan sementara saya) ilmu sosiologi membuat cabang sendiri sebagai sosiologi hukum bukan fakultas hukum yang buka cabang sosiologi jadi induknya sosiologi sebab sosiologi tidak memberikan preskripsi/resep yang berkaitan dengan ilmu hukum. Tapi hasil kajian sosiologi ini akan digunakan oleh ilmu hukum. Sama halnya dengan kajian dari psikologi hukum dsb. Mereka hanya memberikan deskripsi atau resep sesuai dengan bidang ilmu psikologi.
3. Mestinya ada cabang khusus dari ilmu hukum yaitu ilmu penerapan hukum dan ilmu pembinaan hukum. Jadi bukan hanya menjadi tugas dari BPHN saja.

Eh, iya, saya jadi teringat dan merasa berdosa sebab pernah takuti anak2 tentang Pak RT ketika mereka rewel dan sulit diatur. Maafkan saya ya, insyallah ga gitu lagi..
Ini cerita saya, bagaimana ceritamu?